Rojolele

Soal beras, mama selalu bilang ‘Rojolele tuh paling enak, pulen, dan wangi’. Setiap satu karung habis, datang satu karung lagi. Tidak selalu beras itu sih, karena harganya mahal, kami juga makan beras Pandan Wangi. Tapi, semakin saya besar, semakin jarang Rojolele hadir di rumah, beli beras pun jadi diketeng. Kami beli per-liter di warung pakContinue reading “Rojolele”

Nasi Goreng Lalan

Ruang dalam foto ini tinggal kenangan. Bang Lalan sekarang bergerobak dan mangkal di depan lokasi lama. Dulu, tempatnya di ruang depan sebuah rumah besar. Sekarang, rumah itu sudah tiada, berganti tembok setinggi minimal lima meter, mepet ke badan jalan. Hilang satu penanda penting Pasar Menek, tempat orang kebanyakan berkumpul dan makan-makan. Tembok itu menggilas memoriContinue reading “Nasi Goreng Lalan”

Roti Lauw

Salah satu langganan waktu kecil: Roti Lauw. Untuk sarapan dan bekal sekolah, (almh) mama biasanya beli: roti coklat, roti keju, dan donat meses. Sebenarnya, saya tidak terlalu suka, teksturnya kasar dan terlalu alot, jadi butuh waktu mengunyah. Sementara teman-teman sudah pada berlarian, saya masih sibuk makan, padahal waktu istirahat di sekolah terbilang sangat singkat. Tapi,Continue reading “Roti Lauw”

Bakso-Bakso Blok – S dan Sekitarnya

Jelang usia 40, saya baru sadar kalau bukan penggemar bakso. Gara-gara dihampiri aroma bumbu kacang campur jeruk limo, padahal di Berlin gak ada tukang siomay keliling. Halusinasi ini menggugah, saya gak pernah kangen bakso. Tapi, gak juga bisa bilang gak suka, cuma jadi tahu kalau itu saya santap demi keluarga dan pergaulan. Apalagi dulu tinggalContinue reading “Bakso-Bakso Blok – S dan Sekitarnya”