dari Warung ke Warung

“Di Poncol, setiap rumah punya warung, siapa jadi pembelinya?“ tanya kawan dari Pejompongan. Padahal, meski berhimpit, setiap warung punya kekhususan. Dari Kebalen, Maya melanggan warung Adwa dan warung Aceh. Di Poncol, dua warung ini terletak berseberangan, dan punya dagangan sama tanpa selisih harga. Bedanya, warung Aceh, boleh belanja via WhatsApp, kalau transaksi mencapai 80 ribu,Continue reading “dari Warung ke Warung”

Cari Duit ala Bocah

Kala Gang Puspa masih eksis, Malik punya banyak aksi. Antaranya, menyewakan payung. Kalau hujan sore-sore, ia pergi ke gedung LIPI. Targetnya, pegawai yang berjalan ke halte Telkomsel atau yang akan naik jembatan penyeberangan. Tarifnya, tak pernah dipatok, tapi yang pelit memberi 50 perak, sementara tertinggi 500 rupiah. Penghasilan Malik dan teman-teman selalu melebihi 10 ribuContinue reading “Cari Duit ala Bocah”

Bidan Wati

Di rumah kami, karena profesi mama, banyak perkakas medis menjelma jadi perabot rumah tangga. Etalase obat untuk menyimpan barang pecah belah, bekas bed melahirkan untuk meja dapur, gunting-gunting bengkok untuk memotong segala, dari kertas, tali rafia, sampai bungkus mie instan. Perkakas dalam foto adalah meja obat yang jadi tempat kosmetik, biasanya diletakkan di bawah cermin.Continue reading “Bidan Wati”