Hotel Jusenny

Akhirnya saya tahu kenapa Hotel Jusenny menanam Palem ini. Sungguh, sejak kecil, sering heran, karena sepanjang jalan ini, cuma dia yang punya pohon model begini. Buat apa? Teduhnya, nggak maksimal. Buahnya, nggak jelas. Bersebelahan dengan jalan masuk Kebalen V, hotel ini termasuk andalan. Kalau banjir, jadi tempat mengungsi warga yang mampu bayar tarif menginap. WaktuContinue reading “Hotel Jusenny”

‘Menjadi Korea’

Mu Gung Hwa (MGH) berdiri sekitar 1990-an, menggantikan toko pakaian yang sepi. Produk yang dijual berbeda dari kebanyakan supermarket. Beberapa kali berkunjung, saya- yang waktu itu berusia sekitar 10 tahun- lebih sering lihat-lihat saja, sampai, akhirnya, membeli roti tawar. Saya lalu tak datang lagi. Terlalu asing. Kemudian Mama bilang MGH adalah toko makanan untuk orangContinue reading “‘Menjadi Korea’”

Sate Kamari

Daging kambing datang tidak sendiri. Ia diantar Kamari, penjual sate. Tapi mama tidak doyan, prengus. Jadi, kami cuma beli 5 tusuk, bersama 20 tusuk sate ayam. Kalau makan di luar rumah, segala yang kambing juga diabaikan. Di etalase gerobak, potongan daging tertusuk tampil bertumpuk. Sate kambing ditusuk bambu yang lebih pipih, warnanya merah, sering dilekati gumpalan putih. Kata mama, itu gajih, lemak. SateContinue reading “Sate Kamari”

Ikan-ikan di Kali Krukut

Sejak SMP, Doni rutin memancing di hari minggu. Rutinitas dimulai dengan mengorek-ngorek gundukan sampah di Rengas. Saya sendiri tidak ingat pasti dimana lokasi ini, mungkin di dekat pasar? Doni sudah tak hirau pada sengatan bau sampah. Cacing-cacing terbaik untuk umpan ada di sana, ”segar-segar” katanya. Orang pertama yang mengenalkan dunia tarik-ulur kail pancing adalah mamang-nya.Continue reading “Ikan-ikan di Kali Krukut”