Ayam

Sepanjang hidup bersama mama, ada dua periode pendek memelihara ayam. Salah satunya, saat ia berumur 50 tahun. Ayam-ayam itu hidup sekitar setahun sampai datang banjir besar. Sebagian mati karena kami tak sempat memindahkan mereka ke loteng. Tapi, yang sudah berada di loteng, ada yang mati karena musang. Saya bayangkan dialog jelang kematian mereka, baik sebelum tenggelam, maupun yang kena tipu muslihat musang sampai rela menjulurkan kepala keluar dari jeruji sangkar dan musang mencaploknya.

Periode lain memelihara ayam, saat saya duduk di sekolah dasar. Mama mendatangkan sepasang ayam kampung. Umur mereka tak panjang, berakhir di panci opor. Penyembelihan ayam betina diawali perbincangan mama dengan tukang sayur. Di halaman rumah, tukang sayur mendekati ayam betina, mencekal dan menempelkan belati di lehernya. Ayam betina menjerit dan meronta sampai mati. Saya menyaksikan peristiwa itu dengan bingung. Sepasang ayam dikenalkan, diberi makan, dibelai-belai, tapi tak ada saya diberitahu saat hidup mereka diakhiri.

Teks dan foto: Rika Febriyani
#akamsisenopati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: