Kendi & Gentong di Pecandran

Jusni menempelkan sebilah pisau di tangan saya. Seperti janjinya, pisau itu dingin. “Bener kan?”. Saya melirik pada kendi di meja kayu. Wujudnya jauh lebih serius dari kendi seremoni. Badannya cembung, corotnya panjang, dan berlubang nyaris sekecil pensil. Kendi, tentu saya tahu, dari TV, buku, dan museum. Perkakas mama kebanyakan dari plastik. Gentong, tak terkecuali, warna merah dan biru. Sementara di rumah Jusni, benda gendut itu bahkan terbuat dari tanah liat. Berada di dapurnya, membuat saya masuk ke periode waktu yang berbeda.

Keluarga ayah Jusni asli Blok-S. Di setiap kampung, ada orang tua, saudara, juga kerabat. Misal, keluarga encang di Kebalen, para encing di gang Solihin, saudara-saudari dari ba’aji di Poncol, lalu ada besan di gang Limo. Sepupu kebanyakan tinggal di Rengas, tapi ada juga sepupu dari garis nyai di gang Puspa. Jusni sendiri tinggal di kampung Pecandran, bersama orang tua dan nyai. Nyai, atau nenek, inilah yang punya perkakas dapur. Jadi, saat itu, tahun 80 – 90’an, usia kendi – gentong di rumah Jusni mungkin sudah setengah abad. Dan, mereka masih ampuh menjaga air tetap dingin dalam suhu ruangan. Pisau yang dicemplungkan ke dalam kendi di pagi hari, akan jadi dingin seperti keluar dari kulkas. Kami membuktikannya di sore itu. Sungguh perkakas canggih melawan panasnya Jakarta, tanpa listrik.  

Berbeda dengan Jusni, orang tua saya adalah pendatang. Kami tidak punya saudara di Blok-S atau sekitarnya. Tetangga pun tahu sebatas senyum dan ‘say hello’. Pagar orang pendatang biasanya tinggi dan dilapisi fiberglass. Rumah orang Betawi, kalau pun berpagar, saya kira basa-basi saja. Rumah Jusni, misalnya, berpagar setara dengkul orang dewasa. Bagi mereka, tetangga adalah saudara. Maka, meski harus pindah ke Jagakarsa, dan kini di Pamulang, Jusni tetap menyebut diri ‘anak Blok-S’. Setidaknya sekali di bulan puasa, dia akan menyempatkan diri Sholat Tarawih di masjid Pasar Menek, “demi mengenang masa kecil”. Di momen itu, ia akan menjumpai kerabat dari kampung yang tersisa, “kadang-kadang gue bisa mewek. Gue berasa kecil kalau di situ, ketemu orang-orang tua, kan. Mereka yang ‘ooooh ini anaknya si A, si B,..’..”. Kerabat dari kampung-kampung yang sudah raib seperti Puspa, Limo, dan Solihin juga masih sering main ke Pasar Menek, “…..yang jualan Bubur Ayam Pecandran tuh sepupu gue, biasanya kita kumpul di situ”.***

#akamsisenopati

Teks: Rika Febriyani

Foto dan narator: Jusni Fitriani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: