Bang Kirno

Minggu lalu saya dapat kabar Kirno sudah tiada. Dia, tukang sayur yang nyentrik. Tak lewat setiap hari, tapi kalau datang mesti meninggalkan belanjaan. Tak punya uang bukan alasan, meski itu sungguh terjadi. Ada saja caranya membujuk mama, “alaaah ibu, ini daging buat bikin semur kesukaan dek Ika”, atau “bandeng udah dipresto gak mau? Katanya orang Jawa”, atau “kasihan ini ayam dari pasar Kebayoran, taro di sini aja ya biar dimasak”. Pernah ia nekat menggantung se-plastik belanjaan, lalu pergi tanpa pamit. Hutang dengan Kirno dibayar setiap gajian. Kalau tak bisa lunas, itu ditumpuk di bulan depan, dan terus begitu sampai jelang lebaran. Mama melunasi hutang dengan uang THR, dan Kirno pun bisa leluasa berhari raya. Tapi, kadang ia menagih setelah lebaran, “sengaja nyimpen uang di sini. Kalau semua dibawa ke kampung, nanti balik Jakarta gak punya modal”. Tiap habis lebaran, keluarga kami memulai perhitungan baru. Di tanggal tua, sistem transaksi dengan Kirno memang sangat membantu. Tahun 2016, mama tutup usia, adik saya melunasi hutangnya. Setahun kemudian Kirno tak kunjung datang. Ia dikabarkan sakit, menetap di kampung sampai wafat, di tahun 2018. “Semoga dapat tempat terbaik ya, Bang. Jasamu menjaga pasokan nutrisi keluarga akan selalu menyertai”.

#akamsisenopati

Gambar & Teks: Rika Febriyani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: