Metromini

Seorang teman berteriak panik. Dia bilang saya hampir ditabrak Metromini. Waktu itu kami masih SMP, kejadiannya di perempatan gereja Santa, jalan Wolter Monginsidi. Si sopir sepertinya kesal karena sebelum turun sempat saya bentak. Ia lalu beri gertak dengan maju nge-gas di belakang saya.

Tapi, siapa yang punya kenangan manis dengan Metromini? Saya sih nggak. Mulai dari diturunin semena-mena, dioper di tengah jalan, dilempar uang kembalian, dibawa selambat siput atau malah super ngebut. Saya pernah hampir nangis saat naik 75 yang selalu ngetem di perempatan Tendean. Bagaimana bisa Metromini ini mengambil waktu dalam hidup saya tanpa ijin? Tiga kali lampu merah gak juga jalan!!! Dan saya dicengkeram perasaan tak berdaya untuk melawan.

2015, datang ke Jakarta, ojek online merajalela. Si oranye sepi penumpang. Bodi pun makin butut. Saya menyumpah puas “Metromini ini dulu maunya menang sendiri, sekarang tua ditinggal sendirian”.*

Gambar: Jalan Wolter Monginsidi saat masih dua jalur, dibuat dari ingatan plus imajinasi… silahkan protes kalau gak cocok. Hehehe. (Gambar dan teks: Rika Febriyani)

#akamsisenopati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: